Indonesia Masih Kekurangan Sekitar 36 Ribu Tenaga Penyuluh Pertanian

http://lokernesia.blogspot.com/2012/06/indonesia-masih-kekurangan-sekitar-36.html

Indonesia dinilai masih kekurangan sekitar 36 ribu tenaga penyuluh pertanian saat ini. Padahal, peran penyuluh pertanian ini sangat penting guna mendukung swasembada pangan yang ditargetkan pemerintah.

"Kita masih kekurangan 36 ribu tenaga penyuluh pertanian di lapangan," kata Kepala Pusat Penyuluhan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Momon Rusmono di Jakarta.

Hal itu diungkapkan Momon ketika menyampaikan rencana kegiatan Temu Teknis dan Temu Karya Penyuluh Pertanian pada 27-30 Juni 2012 yang akan dilaksanakan di Kota Metro, Lampung. Menurut Momon, kekurangan itu didasarkan pada jumlah desa di seluruh Indonesia yang mencapai sekira 75 ribu desa.

"Dari 75 ribu desa tersebut, yang potensial untuk dikembangkan untuk pertanian sekira 71 ribu desa, sementara tenaga penyuluh pertanian yang ada saat ini sekira 35 ribu orang," kata Momon.

Berdasarkan perhitungan itu, maka upaya Kementan yang akan menerapkan satu desa satu penyuluh masih sulit diwujudkan. Karena kurangnya tenaga penyuluh pertanian di tingkat lapangan yang dapat mendampingi petani.

Menurut Momon, untuk mengoptimalkan tenaga penyuluh pertanian yang ada, maka pemerintah mengembangkan Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian (WKPP) yang mana setiap WKPP membawahi dua hingga empat desa. "Jadi satu orang tenaga penyuluh pertanian yang ditempatkan pada satu WKPP akan melayani dua hingga empat desa," katanya.

Kementan, ujarnya, berharap ada satu orang penyuluh di setiap desa,  namun, desa yang harus memiliki satu penyuluh adalah desa yang memiliki potensi pertanian atau paling tidak memiliki delapan kelompok tani. Pihaknya tetap akan memberdayakan penyuluh pertanian dari PNS dan THL-TBPP (tenaga harian lepas-tenaga bantu penyuluh pertanian).

"Jumlah penyuluh yang PNS sekira 27.750 orang, THL-TBPP sekira 22.216 orang, dan honorer sekira 1.250 orang," kata Momon.

Sementara itu, melalui kegiatan Temu Teknis dan Temu Karya Penyuluh Pertanian diharapkan mampu meningkatkan wawasan dan pemahaman penyuluh pertanian, peneliti, petani dan pemangku kepentingan lainnya terhadap program pertanian terutama pencapaian swasembada pangan berkelanjutan.

Selain itu juga mampu meningkatkan motivasi, kinerja dan profesionalisme penyuluh pertanian. Kegiatan yang rencananya dibuka Menko Perekonomian Hatta Rajasa tersebut hingga saat ini telah menerima pendaftaran sebanyak 4.003 peserta dari target 3.000 orang yang terdiri penyuluh, petani, peneliti dan pemangku kepentingan lain dari 33 provinsi di seluruh Indonesia.

Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur Lampung Joko Umar Said menyatakan, pihaknya menyambut positif penetapan Kota Metro sebagai lokasi kegiatan Temu Teknis dan Temu Karya Penyuluh Pertanian 2012. "Melalui kegiatan ini kami bisa mempromosikan produk-produk unggulan Lampung," katanya.

Selain itu, lanjutnya, kegiatan yang dihadiri ribuan peserta dari seluruh Indonesia tersebut secara langsung juga akan memberikan pemasukan bagi warga sekitar dari jasa penyewaan rumah atau homestay. "Dalam sehari setidaknya akan ada pemasukan sekira Rp1 miliar dari jasa penginapan yang diperoleh warga," kata Joko.

Wali Kota Kota Metro, Lukman Hakim mengatakan, penetapan Kota Metro sebagai tuan rumah Temu Teknis dan Temu Karya Penyuluh Pertanian 2012 sangat tepat. "Selain letaknya yang strategis dan tak jauh dari bandara, Kota Metro juga merupakan kawasan agraris meskipun telah menjadi kota," katanya. (ref : Okezone)


Get widget